Dulu dan Sekarang; Perbedaan Budaya Orang Minang Seiring Perkembangan Zaman

oleh -

SNdotCOM — Minangkabau adalah sekelompok etnis yang terletak di pulau Sumatra, tepatnya Sumatera Barat, Indonesia. Prinsip adatnya, yang dikenal dengan istilah ‘Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.’

Budaya Minangkabau sangat kuat diwarnai dengan Islam. Namun tradisi itu kemudian perlahan berubah setelah perkembangan teknologi, dan tingginya pengaruh budaya Barat di Indonesia. Banyaknya elemen budaya yang terancam punah, khususnya dalam hal ini budaya Minang. Hal itu disebabkan pewarisan budaya yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi, terbentur peradaban yang berubah. Sebab lain diakibatkan oleh pelaku budaya sudah mulai uzur dan ada juga sebahagian yang meninggal dunia.

Budaya Minang semakin lama makin terkikis saat banyaknya generasi muda yang lupa dengan budaya sendiri. Tradisi masyarakat dulu dengan sekarang sangatlah berbeda, baik itu dari segi bertutur,  cara berpakaian, pembentukan rumah, hingga bagaimana masyarakat melangsungkan pesta.

Gaya Bahasa

Bahasa Minang tentunya tidak asing lagi di Indonesia. Kata-kata yang mudah dipelajari, terdengar unik untuk diucapkan. Dialek yang berbeda-beda, juga cukup banyak sesuai dengan daerah sebarannya. Bahasa ini masih digunakan oleh masyarakat Minangkabau, baik yang berdomisili di Sumatera maupun di perantauan. Namun akibat transmisi intergenerasi, sebahagian masyarakat Minang yang dibesarkan di perantauan, menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesehariannya. Bahkan yang berdomisili di Raah Minang pun terkadang menggunakan bahasa campuran IndoMi (Indonesia-Minang), istilah Minangnya “sakarek ula sakarek baluik.”

Cara Berpakaian Kaum Hawa

Pakaian khas perempuan Minang yang terkenal di antaranya adalah baju kurung. Baju yang berukuran longgar, berbentuk lurus dan  tidak membentuk lekuk tubuh dengan panjang mencapai betis.

Kemudian, perempuan Minang dahulu menggunakan lilik (kerudung sejenis selendang) sebagai penutup kepala. Menurut kamus bahasa Minang-Indonesia lilik  berarti lilit, yang mana perempuan Minang menggunakan penutup kepala dengan cara dililitkan. Sayangnya budaya menggunakan lilik di kalangan perempuan Minang sudah memudar. Begitu pun dengan cara berpakaian yang tidak lagi menggunakan baju kurung di dalam kesehariannya. Munculnya inovasi designer modern yang menghadirkan berbagai macam bentuk pakaian untuk digunakan, turut mempengaruhi gaya berkerudung dan berbaju kurung.

Bentuk Rumah

Daerah Minangkabau sangat terkenal dengan bangunan tradisional yang disebut dengan nama “Rumah Gadang.” Rumah bagonjong dengan arsitektur yang unik, bentuk puncak atapnya seperti tanduk kerbau yang terbuat dari kayu yang sangat kuat. Penutup atapnya  terbuat dari daun ijuk yang tahan lama. Rumah gadang dulunya digunakan oleh masyarakat Minangkabau sebagai tempat tinggal, musyawarah, dan tempat pewarisan adat istiadat lainnya. Selain rumah gadang, masyarakat minang mempunyai tempat penyimpanan harta benda khusus berupa hasil panen, yang disebut dengan  “Rangkiang.”

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Rumah Gadang yang awalnya diberi atap ijuk ditukar dengan bahan seng. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang kian maju, mulai mewarnai rumah masyarakat Minang yang dulunya berdesain sama. Sekarang sudah berganti bentuk menjadi rumah permanen modern yang dindingnya terbuat dari semen dan berlantaikan ubin.

Tradisi menyimpan pada Rangkiang pun sudah tidak ada. Masyarakat sudah mengalihkan penyimpanan harta hasil panen pada gudang belakang rumah. Sangat sedikit masyarakat yang bertahan untuk memakai bentuk rumah berdesain Rumah  Gadang. Di antara beberapa Rumah Gadang yang tersisa, masih tersisa sebagai peninggalan sejarah Minangkabau yakni Rumah Gadang yang terletak di Pagaruyung. Sekarang objek tersebut beralih fungsi sebagai destinasi wisata dan museum peninggalan sejarah Minangkabau.

Prosesi  Pesta

Baralek dalam istilah Minang lebih identik dengan resepsi pernikahan. Dalam tahapan pelaksanaannya, dimulai dengan tahapan maresek, mendatangi keluarga  calon  mempelai. Selanjutnya dilanjutkan dengan proses timbang tando, yang mana kedua pihak telah sepakat untuk menjodohkan anaknya dengan memberikan suatu benda sebagai tanda ikatan.

Dari tahap timbang tando, dilanjutkan dengan babako-babaki, bentuk dukungan dari keluarga ayah calon mempelai wanita yang memberikan beberapa perlengkapan untuk kelangsungan acara pernikahan kedua mempelai. Selanjutnya tahapan malam bainai, dengan memberikan inai sebagai penghias kuku calon mempelai wanita. Hingga tiba saat proses manjapuik marapulai, prosesi di mana pihak calon mempelai pria dijemput untuk dibawa ke rumah calon mempelai perempuan untuk melangsungkan akad nikah.

Proses walimah dilangsungkan dengan cara bersama-sama oleh warga setempat beserta keluarga. Biasanya, kaum perempuan memasak secara sukarela untuk membuat masakan bagi para tamu. Tamu dihidangkan berbagai macam makanan, dan makan bersama-sama didalam rumah secara bajamba.

Akhir-akhir ini, tradisi baralek dengan prosesi di atas sudah mulai hilang. Tidak ada lagi gotong-royong di dalam perhelatan. Hidup di zaman modern yang serba praktis, sehingga kebanyakan semua hal yang mendukung jalannya acara juga serba praktis. Tidak ada lagi gelak tawa bundo kanduang di dapur saat menyiapkan hidangan. Makanan yang seharusnya di masak secara bersama-sama, digantikan dengan catering hasil pesanan. Bahkan untuk mencuci piring tidak lagi dilakukan secara suka-rela, sekarang sudah ada jasa tukang cuci piring. Pesta yang dulunya diadakan selama tujuh hari tujuh malam di rumah mempelai, sekarang hanya berlangsung selama satu hari di gedung-gedung mewah, bahkan hanya beberapa jam  kemudian acara pun hilang.

Itulah perbedaan tradisi Minang dulu dan sekarang. Akankah tradisi itu akan tetap bertahan untuk lima atau sepuluh tahun kedepan?. Wallahu a’lam.

Penulis: Voni Maisyarah (Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Inggris IAIN Batusangkar)

loading...