Pembelajaran Bahasa Arab dengan Pendekatan Humanistik

oleh -

SNdotCOM — Bahasa Arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan. Ada banyak kitab-kitab klasik yang dikarang oleh ulama-ulama terdahulu yang ditulis dalam bahasa Arab. Sampai saat ini, karya-karya ulama klasik tersebut masih banyak dijumpai yang dikenal dengan “kitab kuning”.

Kitab-kitab tersebut tidak hanya membahas tentang fiqh, aqidah akhlak, dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya, tetapi juga membahas tentang filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Jadi jelaslah bahwa bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan. Bahasa Arab juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan agama Islam, hal ini disebabkan karena semua ajaran Islam terhimpun dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang berbahasa arab. Untuk dapat mengkaji dan mendalami ajaran Islam, maka harus mempelajari Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan agar dapat mempelajari Al-Qur’an dan Al-Hadits dibutuhkan kemampuan berbahasa  Arab yang memadai.

Bahasa Arab sebagaimana bahasa-bahasa yang lain memiliki empat keterampilan berbahasa (ﻣﮭﺎرة اﻟﻠﻐﺔ) atau dikenal pula dengan  ﻓﻨﻮن اﻟﻠﻐﺔ (seni-seni bahasa). Dengan menggunakan kata maharah dapat dipahami bahwa aspek paling mendasar dari bahasa itu adalah alat komunikasi. dan keterampilan adalah bagian yang paling mendasar ketika menggunakan bahasa. Keempat maharah itu antara lain adalah; / ﻣﮭﺎرة اﻻﺳﺘﻤﺎع listening (keterampilan mendengar). /ﻣﮭﺎرة اﻟﻜﻠﻢ speaking (keterampilan berbicara).   ﻣﮭﺎرة اﻟﻘﺮاءة /reading (keterampilan membaca). dan  /ﻣﮭﺎرة اﻟﻜﺘﺎﺑـــﺔ writing (keterampilan menulis). Di Indonesia, bahasa Arab menjadi salah satu bahasa asing yang wajib dipelajari khususnya di madrasah-madrasah hingga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Pengajaran bahasa Arab juga diwajibkan di pondok-pondok pesantren yang banyak tersebar di Indonesia. Tidak sedikit pondok yang mempelajari kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang berisi tentang pengetahuan agama Islam.

Pentingnya pembelajaran bahasa Arab ini, maka perlu dibuat berbagai pendekatan agar peserta didik lebih memahami dan menguasai bahasa Arab. Tujuan pembelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah maupun madrasah adalah agar peserta didik mampu memahami bahasa Al-Qur’an dan Al-Hadist, serta mampu mebaca teks berbahasa arab dan bisa mengungkapkan ekspresi dalam bentuk ujaran dengan baik dan benar. Oleh sebab itu perlu kiranya pendekatan yang membuat peserta didik merasakan kesenangan dengan bahasa arab sehingga bisa memberikan dampak positif bagi peserta didik dalam memahami agamanya. Dalam hal ini penulis menawarkan pendekatan pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan humanistik.

Dalam dunia pendidikan dikenal beberapa teori pendidikan, yaitu teori behavioristik, kontruktivistik, serta humanistik. Humanistik dapat diartikan sebagai orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will  (kemampuan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya. Teori ini muncul sekitar abad ke-16 sebagai bentuk protes terhadap dogma agama seperti tulisan yang ditulis oleh Desiderius Erasmus dan Sir Thomas More yang memprotes gereja yang menyuruh orang taat membuta pada doktrin agama dan merusak kebebasan berpikir.

Berbicara pendidikan humanistisk atau konsep belajar humanistik, tentunya tidak bisa dipisahkan dengan paham psikologi humanistik. Paham psikologi humanistik inilah yang diyakini oleh beberapa ahli menjadi dasar atau sumber munculnya konsep pendidikan humanistik. Aliran ini selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang ada pada setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikanpun senantiasa berubah. Dengan adanya perubahan dalam strategi pendidikan dari waktu ke waktu, humanistik memberikan arahan yang signifikan dalam pencapaian tujuan ini. Psikologi humanistik membantu upaya perbaikan dalam pendidikan salah satunya dengan pendekatan humanistik. Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik pada peserta didik. Dalam prosesnya mereka diberi pengalaman belajar, diakui, diterima, dan dimanusiakan. Sehingga pada gilirannya peserta didik menjadi optimis untuk sukses.

Konsep humanistik mengajarkan manusia memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam. Menghilangkan sifat-sifat egois, otoriter dan individualis. Tidak semena-mena memaksakan lawan bicara memahami, atau masuk dalam pembicaraan kita. Pendidikan humanistik adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai manusia yakni makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu untuk dikembangkan secara maksimal dan optimal.

Berdasarkan beberapa teori humanistik di atas, maka dapat kita rangkum prinsip-prinsip belajar humanistik, antara lain:

  1. Menunjukkan pengakuan positif pada pelajar.
  2. Memberikan pilihan dan kesempatan bagi pelajar untuk mendorong pertumbuhan pribadi mereka.
  3. Membantu pelajar dalam melaksanakan pembelajaran dengan memberikan sumber dan dorongan
  4. Belajar akan berguna jika materi yang dipelajari memiliki kebermaknaan pada diri pelajar. Untuk itu, materi harus relevan dengan kehidupan pelajar sehari-hari.
  5. Pembelajaran akan memiliki kebermaknaan dengan melibatkan pelajar secara penuh dalam pembelajaran.
  6. Pelajar belajar dalam rasa aman. Semakin besar rasa aman yang dirasakan, maka pelajar akan lebih mudah untuk belajar. 

Dari beberapa prinsip belajar humanistik di atas dapat kita lihat bahwa dalam pembelajaran, siswa belajar secara alami, dimana materi yang dipelajari benar-benar memiliki hubungan dengan apa yang mereka butuhkan. Dengan demikian siswa bisa benar-benar merasakan apa yang sedang ia pelajari, apalagi dengan keterlibatan siswa dalam pembelajaran akan semakin meningkatkan hasil belajar mereka, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai.

Tokoh yang berpengaruh mendukung pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa adalah Earl Stevic (1987). Dia beralih kependekatan humanistic setelah merasa tidak puas dengan teori pembiasaan model audio lingual dan cognitive code learning. Menurut Stevick, belajar Bahasa adalah sebuah pengalaman emosional dan perasaan yang menganggap bahwa proses belajar akan menimbulkan perasaan dan semangat untuk berhasil dalam belajar. Keberhasilan dan kegagalan dalam pembelajaran bahasa sangat tergantung sejauh mana guru bahasa mampu melayani kebutuhan domain afektif siswa. Factor lainnya adalah sejauhmana perasaan emosional siswa terhadap guru, teman-teman sebaya dan budaya bahasa sasaran. Oleh karena itu, titik tekan pengajaran Bahasa menurut pendekaatan humanistic diberikan kepada siswa, bukan guru.  Oleh karena itu, seorang guru yang baik menurut teori humanisme adalah guru yang memiliki sikap ikhlas dan realitas, percaya dan menghargai kemampuan siswa untuk berkembang meningkatkan dirinya dan memecahkan masalah mereka. Lebih lanjut, selain sebagai fasilitator, guru juga mempunyai fungsi kognitif, manajemen kelas, mempraktektekkan tujuan dan fungsi personal dan inpersonal. Terkait dengan fungsi kognitif, guru berfungsi memproses pengetahuan yang dibutuhkan siswa. Fungsi manajemen kelas; guru bertanggung jawab untuk  mengatur materi, jadwal dan teknik pengajaran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa. Fungsi mempraktekkan tujuan; guru diharapkan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang sudah disusun. Dan fungsi personal dan impersonal; guru dituntut untuk memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk menciptakan iklim kelas yang interpersonal. 

Dari penjelasan di atas, dapat kita ambil pandangan tentang seorang guru dalam pendekatan ini harus memenuhi syarat sebagai, 1) Guru sebagai fasilitator hendaknya bersikap  ikhlas dan realistis serta jauh dari kesan superioritas. 2) Guru harus mempercayai atau menerima para siswanya sebagai individu yang patut  dihargai. 3) Guru perlu berkomunikasi secara terbuka dan penuh empati dengan siswanya agar siswa juga melakukan hal demikian kepada gurunya.

Pembelajaran bahasa Arab berbasis humanistik ini lebih menitik beratkan pada bagaima pembelajaran bahasa yang menyenangkan dan sifatnya tidak memaksa. Sehingga siswa merasakan Bahasa arab merupakan pelajaran yang menyenangkan jauh dari kesan “seram”. Salah satu metode yang bisa dan layak digunakan dalam pembelajaran Bahasa arab  melalui pendekatan humanistic adalah metode sugestopedia. Salah satu ciri dari metode sugestopedia ini adalah pemutaran music yang lembut atau kelas yang penuh warna untuk membangkitkan energy mengingat dan belajar para siswa.

Metode sugestopedia dikembangkan oleh seorang Psikiatri Bulgaria, Georgi Lozanov, pada tahun 1978. Lozanov mempercayai bahwa otak manusia memiliki kemampuan belajar yang hebat, akan tetapi kekhawatiran dan rasa takut gagal pada diri seseorang menjadi objek penghalang untuk mencapai potensi tersebut. Untuk itu, Lazanov menciptakan metode sugestopedia yang memiliki cara kerja dengan menstimulasi otak dengan memanfaatkan pembelajaran menggunakan musik, seni, relaksasi, meditasi, bunga, lingkungan yang berwarna, imajinasi, fantasi dan lain-lain yang bisa memberikan stimulasi positif bagi otak. Lazanov percaya bahwa teknik relaksasi dan kosentrasi akan menolong siswa dalam membuka sumber bawah sadar mereka dan memperoleh kuantitas kosakata yang lebih banyak dari biasanya. Maka, tak mustahil metode ini menuntut adanya dekorasi kelas, penggunaan perabot kelas serta alat music.  Dalam metode ini pelajar diberi kesempatan duduk santai sambil belajar dan mendengarkan kembali materi yang sudah dijelaskan.

Prinsip-prinsip dari metode tersebut antara lain, a) Penekanan bahwa belajar itu mudah dan menyenangkan, b) Perpaduan antara faktor sadar dan faktor di bawah sadar pelajar, c) Interaksi yang hidup antar pelajar untuk memberikan kesan yang bermakna pada diri mereka.

Dalam metode ini, guru atau dosen diharuskan memiliki kapilitas yang memadai dalam penguasaan materi ajar dan pengetahuan tentang kondisi psiklogis peserta didik. Hal ini disebabkan karena guru atau dosen berperan menciptakan situasi untuk peserta didik disugesti  untuk lebih cepat menangkap materi yang diajarkan.

Untuk kelas Bahasa Arab, pendidik bisa membagi jam pelajarannya menjadi tiga bagian. Bagian pertama untk review materi yang dielajari sebelunya, bagian kedua memberi materi yang baru untuk dipelajari dan didiskusikan, sedangka bagian ketiga penayangan musik, melihat bunga atau menikmati kelas yang berwarna  sebagai bentuk relaksasi. Pembelajaran menggunakan metode sugestopedia tidak mesti hari menggunakan musik, juga bias dengan menggunakan gerakan gerakan serta warna yang membuat siswa dan peserta didik merasakan kenyamanan dalam proses pembelajaran.

Penulis: Ferki Ahmad Marlion

loading...