Adat Basandi Syara` dalam Perspektif Pemilihan Umum Kepala Daerah

By Salingka Nagari 25 Nov 2019, 18:34:19 WIB Agama dan Adat Minang
Adat Basandi Syara` dalam Perspektif Pemilihan Umum Kepala Daerah

Keterangan Gambar : Ilustrasi Istana Pagaruyung (Sumber: Google Image)


SNdotCOM -- Perkembangan masyarakat Minangkabau dari masa ke masa selalu diwarnai oleh berbagai kondisi sosial. Semua itu mampu dilewati dengan sukses masyarakat yang dikenal agamis itu.

Sebagai contoh, Perang Paderi yang diawali dengan pertentangan antara kaum adat dan kaum agama, yang merupakan perbedaan ideologi dua tokoh yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat di masa itu, mampu disatukan dan terselamatkan dari politik Devide It Imperanya penjajah. Soliditas dan kekompakan kedua masyarakat, membuat penjajah Belanda kocar-kacir di Ranah Minang. Apa yang membuat masyarakat Minangkabau bisa bersatu? Pemersatunya adalah sebuah warisan intelektual dan kultural, yaitunya sebuah adagium "Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah"

Gelombang pemikiran di awal abad 19 antara kaum tua dan kaum muda, hampir saja mencapai klimaksnya. Konflik sosial ini juga mampu diselamatkan, penghulu di masing-masing suku.  Mampu memberikan pencerahan kepada kaumnya, sehingga pemikiran yang berbeda itu hanya sampai kepada sebuah "perang" pemikiran, tidak berakibat terhadap umat di kalangan bawah, yang bermuara kepada pecahnya sendi-sendi kehidupan.

Di masa awal kemerdekaan dan setelah kemerdekaan, masyarakat Minangkabau memegang peran strategis dalam menyusun program bangsa ini. Tan Malaka, Agus Salim, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, M Natsir dan Buya Hamka, serta Mr. Assaad, dan banyak tokoh lainnya, adalah mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap pembangunan peradaban dalam membangun bangsa.

Apabila dicermati, para tokoh bangsa tersebut berbeda paham politik, berbeda ideologi yang mereka anut. Tetapi karena mereka dididik di surau dan di Rumah Gadang yang memahami "basilang kayu dalam tungku di sinan api makonyo iduik."

Sejarah telah mengukapkan dengan jelas, tidak satupun di antara tokoh tersebut yang menjadikan kepentingan kelompok, dan paham politik yang mereka perjuangkan untuk merusak tatanan masyarakat Minangkabau. Dalam Rapat Konstituante, para tokoh tersebut bisa berbeda cara pandang, tetapi ketika sidang ditutup, perbedaan paham dianggap selesai, barisan dirapatkan kembali. Ukhuwah Islamiyah dan persatuan tetap dipertahankan sebagai warisan leluhur yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.

Kini, zaman terus berubah. Demokrasi sebagai pilihan bangsa yang terus beranjak menuju penyempurnaan, dimana masyarakat Minangkabau tentu saja wajib mempertahankan kearifan lokal, yang telah terbukti dalam berbagai masa.

Saat ini, menuju suksesi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada), yang sarat dengan berbagai kepentingan dan intrik politik lokal, haruslah dimaknai sebagai sebuah proses demokrasi yang mendidik dan mencerahkan bagi masyarakat. Perbedaan pilihan politik, hanyalah sebagai perbedaan cara pandang dalam menentukan pilihan. Sesuai dengan kepentingan masing-masing pemilih dan kelompok. Adagium "Adat Basandi Syara' ,Syara' Basandi Kitabullah" jadi perekat dalam perbedaan, sehingga masyarakat mampu menentukan pilihan untuk kemajuan daerahnya dengan pikiran cerdas dan pertimbangan yang matang.

Apabila kepentingan jangka panjang, dan kepentingan masyarakat serta ummat yang lebih diutamakan, tentu saja proses demokrasi lima tahunan ini akan benar-benar menjadi pesta demokrasi. Pesta yang akan melahirkan harapan baru bagi masyarakat terhadap kehidupan di masa depan yang lebih baik.

Toleransi masyarakat Minangkabau dalam menyikapi perbedaan, telah teruji oleh waktu dan zaman. Pengaruh tokoh dan stakeholder sangatlah penting dalam menyikapi setiap gejolak yang muncul di masyarakat. Kecerdasan dan kearifan pemilih, diawali dengan keteladanan dari tokoh-tokoh yang ikut dalam konstelasi politik. Satu keteladanan, lebih baik dari seribu kata. Jangan korbankan harmoni yang sudah dirajut dengan indah, hanya karena kepentingan pribadi dan golongan. Lahirkan dan realisasikan Pilkada mendidik dan mencerahkan, menjadikan daerah dengan tatanan yang berkemajuan. Semoga...

Penulis: Ali Ardi (Pimpinan Redaksi Salingka Nagari)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment