Dulu dan Sekarang; Perbedaan Gaya Hidup Remaja Minang

By Salingka Nagari 03 Des 2019, 09:59:42 WIB Pariwisata dan Budaya
Dulu dan Sekarang; Perbedaan Gaya Hidup Remaja Minang

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Google Image)


SNdotCOM -- `Nan mudo parik paga nagari`, adalah filosofi untuk pemuda Minang sebagai tulang punggung dalam kemajuan suatu nagari.

Tentunya, dalam memajukan nagari tidak terlepas dengan gaya hidup yang baik. Adapun perbedaan gaya hidup remaja minang dari zaman old sampai hadirnya generasi baru yang di sebut sebagai generasi millenial di antaranya:

Tempat Nongkrong

Bagi para remaja, pasti suka berkumpul bersama teman seumuran di suatu tempat favorit yang nyaman.  Perempuan Minang dahulu, tidak boleh keluar rumah di malam hari.  Hal ini diatur untuk melindungi anak gadis, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan untuk anak  laki-laki, dahulu diperbolehkan untuk keluar di malam hari, berkumpul di surau. Di surau, mereka berguru dan mempelajari tentang ilmu apapun, baik ilmu al-Qur'an, ibadah, sampai ilmu bela diri. Bahkan budaya menginap di surau, sudah mendarah daging bagi anak laki-laki Minang zaman dulu.

Berbeda dengan masa kini, semua hal tentang jam keluar rumah tidak lagi diatur. Remaja bebas untuk keluar kapanpun dan kemana pun. Bahkan, anak perempuan diperbolehkan keluar malam. Budaya lalok di surau tak lagi ada. Tempat nongkrong sudah berpindah, mulai dari tepi jalanan, kafe terdekat, tempat karaoke,  sampai rumah masing-masing.

Media Berkomunikasi

Remaja Minang dulu terkenal dengan pantunnya. Mereka diajarkan bagaimana berkomunikasi di depan publik dengan cara berbalas pantun dalam menyampaikan pendapat. Terkadang juga menggunakan pantun untuk berkomunikasi dengan lawan jenis, yang ditulis melalui  sistem balas surat. Tak heran, tulisan orang dahulu sangat indah, karena lebih sering menulis menggunakan tulisan tangan.

Remaja Minang masa kini berbeda lagi. Mereka lebih menikmati masa modern yang serba canggih. Globalisasi menggantikan surat dengan sebuah chattingan lewat telepon seluler. Bahkan jika malas berbalas pesan, bisa digantikan dengan sistem telepon berjam-jam. Lebih canggih lagi, menggunakan video call yang bisa menghubungkan wajah satu sama lain untuk mengobrol.

Keberanian

Minangkabau dahulu saat belum adanya cahaya listrik yang masuk, semua penduduknya menggunakan suluah untuk menerangi ruangan pada malam hari. Jika pergi mengaji ke surau, mereka harus melewati jalan yang banyak rintangan, melewati perairan atau semak belukar dengan membawa suluah sebagai penerang jalan. Jika suluah padam, pastinya harus meraba-raba sampai menemukan jalan pulang dengan berani.

Berbeda dengan keadaan sekarang, jauh lebih beruntung. Lampu jalan sudah memasuki desa. Semua orang tidak perlu membawa penerang lagi untuk keluar rumah di malam hari, karena semua tempat sudah terang. Walaupun belum semua sudut terjangkau lampu jalan, paling tidak sudah menerangi sebahagian.

Namun yang sangat mengherankan, walaupun sekarang sudah mempunyai lampu penerang tiap rumah, masih ada sebahagian kecil orang yang takut untuk ke tempat yang gelap.

Motivasi untuk belajar

Pada zaman dulu  belum ditemukannya buku. Pelajar Minang menggunakan batu untuk menulis hal-hal yang ia pelajari. Sayangnya semua yang ditulis tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama, mengingat terbatasnya tempat untuk menulis. Karenanya, semua yang sudah ditulis terpaksa dihapus dan diingat dengan baik-baik dalam memori. Tak heran pelajar dahulu mempunyai daya ingat yang kuat  karena sudah terlatih.

Berbanding terbalik dengan keadaan sekarang. Mula-mula batu sudah di gantikan oleh papan tulis dengan kapur. Setelah itu digantikan oleh buku dan pensil. Pensil di gantikan oleh pena, bahkan pena sudah berbagai macam bentuk dan warnanya. Yang lebih canggihnya, sekarang kita sudah bisa menulis dengan laptop dan smartphone. Bahkan disimpan dalam bentuk file ke dalam memori, agar tetap terjaga dan tidak hilang. Herannya,  sebagian pelajar  masa sekarang lebih menurun daya ingatnya dibandingkan dengan pelajar dahulu, bahkan bisa di katakan sangat lemah.

Semangatnya untuk belajar juga menurun dari tahun ke tahun. Sedikit belajar sudah malas, kalau sudah malas tinggal beralih ke smartphone untuk membuka situs kesukaan.

Jadi, sudah terbayangkah gaya hidup remaja Minang untuk 5 atau 10 tahun ke depan?  Wallahu a`lam.

Penulis: Voni Maisyarah (Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Inggris IAIN Batusangkar)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment