Menulis, Meningkatkan Kualitas Diri

By Salingka Nagari 08 Jan 2020, 19:03:45 WIB Pendidikan & Teknologi
Menulis, Meningkatkan Kualitas Diri

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Google Image)


SNdotCOM -- Perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, merupakan sebuah bukti nyata kreativitas personal yang dimiliki oleh mereka yang selalu berpikir bagaimana meningkatkan kualitas diri.

Para penemu, melalui tulisan rumus-rumus yang rumit dan membuat pusing kepala bagi yang tidak sebidang dengannya, diawali dari dari sebuah coretan-coretan. Tidak serta-merta berupa rumus yang lahir begitu saja, tapi berdasarkan uji coba dari sebuah ukuran yang ditulis di lembaran-lembaran kerja.

Lahirnya tokoh-tokoh sekaliber Haji Abdul Malik Karim Amarullah atau yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Hamka, merupakan efek dari karya tulis yang dihasilkannya. Sebagai bukti jembatan pemikiran kepada setiap orang yang ingin mengenal dan mendalami pandangan dan karakternya.

Begitu pula seorang para tokoh besar lain yang dikenal di seantero Nusantara dan dunia, rerata dikenali melalui karya tulis, yang kadang telah ditinggalkan begitu lama oleh tokoh tersebut di belakang kehidupannya.

Sebutlah John Updike, seorang cerpenis dan novelis yang telah memenangkan dua kali penghargaan jurnalis bergengsi Pulitzer Prize pada tahun 1981 dan 1991. Ia dikenal begitu luas di hampir seluruh negara di dunia, hanya karena karyanya yang terbit dan beredar di mana-mana.  Selama hidupnya John Updike telah menulis 150 cerita pendek berkualitas. Lebih dari 30 penghargaan telah diraihnya semasa hidupnya hanya karena untaian pemikiran yang dituliskannya.

Demikian pula dengan F. Scott Fitzgerald. Seorang penulis novel dari Amerika yang dinisbatkan sebagai salah satu penulis terhebat abad 20. Ia dikenal di seluruh penjuru dunia karena karyanya tersebar dan dibaca di mana-mana. The Great Gatsby, karyanya dinobatkan sebagai novel terbaik sepanjang masa, dan dijadikan bacaan utama dalam literatur Amerika. Sekali lagi, hanya karena kemapuan dan kebiasaannya menulislah seorang Fitzgerald dikenal dan dikenang sepanjang masa.

Lalu, di zaman yang penuh kemudahan ini, ternyata masih banyak orang yang mengenyampingkan keterampilan menulis, dan sangat sulit dimotivasi untuk memulainya. Apalagi, di era pendidikan yang kian maju dengan segala bentuk perangkat teknologi mutakhir, seluruh kebutuhan untuk membangun kualitas personal di bidang kepenulisan, tersedia dengan mudah.

Berkembangnya media sebagai salah satu tempat dan ruang baca mencari bahan menulis, dengan segala pernak-perniknya, telah hadir melimpah-ruah. Tinggal lagi memotivasi diri sendiri dan memunculkan sugesti, bahwa setiap pribadi dapat menjadi penulis handal di bidangnya masing-masing.

Khusus di dunia pendidikan, berkembangnya aturan-aturan yang mewajibkan pendidik untuk menulis hasil amatan dan penelitannya, dirasakan sebagai sebuah upaya yang sangat hebat untuk memacu para pendidik. Mereka, diarahkan untuk menuliskan hasil penelitiannya terhadap lingkungan mengajarnya, diharapkan menjadi sosok yang tangguh untuk mencari solusi peningkatan kualitas pendidikan melalui karya tulis yang disusunnya.  Sangat mulia tugas yang diemban pendidik sejak lahirnya peraturan-peraturan terkait, hingga muncul tokoh-tokoh dan aktivis pendidik yang setiap saat menuliskan pemikirannya untuk turut memperbaiki kualitas generasi bangsa.

Namun, masih saja ada sebagian oknum yang menganggap hal tersebut tidak penting. Dan yang paling miris, sebagian orang yang menganggap, bila tiba masanya harus menulis, banyak orang-orang bayaran yang tetap menunggu proyek kepenulisan, yang sabar dan setia menanti rupiah untuk membantu. Dimanakah letak pengembangan kualitas personal yang diharapkan dimiliki oleh para pejuang kualitas generasi? Sebuah tanggungjawab yang mesti menjadi pemikiran kita bersama.

Penulis: Nova Indra (pimpinan lembaga Pusat Pengkajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment