Tigo Tali Sapilin, Tigo Tungku Sajarangan; Konsep Ideal Pimpinan Bagi Masyarakat Minangkabau -Bag. 2

By Salingka Nagari 10 Des 2019, 12:28:41 WIB Agama dan Adat Minang
Tigo Tali Sapilin, Tigo Tungku Sajarangan; Konsep Ideal Pimpinan Bagi Masyarakat Minangkabau -Bag. 2

Keterangan Gambar : Ilustrasi Istana Pagaruyung (Sumber: Google Image)


SNdotCOM -- Kriteria pemimpin yang menguasai seluk-beluk ilmu seorang ninik mamak atau penghulu, belumlah cukup.

Persyaratan lanjutan yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin, adalah kemampuan pemahaman atau ilmu seorang alim ulama. Alim ulama, atau dipahami sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan dalam memahami ajaran agama, adalah salah satu elemen penting dalam pengelolaan umat di Minangkabau. Dan tentu saja, dalam masyarakat Minangkabau yang menjadi keyakinan adalah agama Islam, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Alim ulama di Minangkabau diibaratkan sebuah suluh (lampu) sebagai penerang kehidupan umat. Alim ulama adalah suluah bendang dalam nagari, yang akan memberikan pencerahan bagi umatnya, agar mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Dan elemen ini, melekat dalam diri seorang pemimpin di Minangkabau. Sehingga tugas dan tanggung jawab pemimpin itu tidak hanya membuat kebijakan yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat di dunia, tetapi juga punya dampak terhadap keselamatan hidup di akhirat. Tanggungjawab ini disebutkan dalam sebuah pantun.

anak urang di Payokumbuah

nak lalu ka banda dalam

kok iyo ulama jadi suluah

jan jatuah urang di nan kalam

Pemimpin wajib mengetahui ajaran al Qur'an dan Sunnah. Ajaran kitab suci inilah yang menjadi bahan bakar untuk menghidupkan lampu penerang umat. Lampu agama ini yang menuntun kehidupan bermasyarakat. Menjadi rambu bagi kehidupan, dimana ada lampu merah yang wajib berhenti karena dilarang Allah SWT dan Rasul SAW, dan mana lampu kuning dimana umat wajib berhati-hati, serta mana lampu hijau sebagai pertanda boleh dilakukan.

Melalui pemahaman agama yang tepat dalam diri seorang pemimpin, adat basandi syara', syara' basandi kitabullah, syara' mangato adat mamakai, akan bisa dimanifestasikan dalam kehidupan. Semua itu akan berjalan bila pemimpin dan umat itu menjadikan Islam sebagai sistem hidup, panduan berfikir dan pedoman bertindak. Masjid dan surau akan ramai, budi pekerti, moral dan etika akan tinggi, maksiat akan menjauh. Masyarakat akan sejahtera karena zakat wakaf dan infak akan disalurkan sesuai dengan tuntunan agama. Rahmat Allah akan turun ke bumi. Barulah cita-cita Baldatun Thaiyyibatun Warabbun Ghafur akan bisa dicapai. (bersambung)

Penulis: Aliardi (Pimpinan Redaksi Salingka Nagari)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment